Ibu Rumahan & Ibu Kantoran??
Beberapa hari yang lalu saya baca tulisan2 ttg surat terbuka utk ibu2 rumah tangga. Tulisan yang bagus. Intinya para IRT jangan minder dengan statusnya.
Sore ini sy ingin sekedar nulis2 saja bukan meluruskan ya tapi sebagai penyeimbang.
ya menanggapi dengan cinta
😍
😁.
ya menanggapi dengan cinta
Sebenarnya perkara memutuskan jadi Ibu rumah tangga atau suka dibilang Ibu rumahan dengan ibu bekerja di luar/sektor publik itu bagi saya sdh lama khatam, kisah yg tak perlu diperdebatkan lagi karena masing2 adalah pilihan yang terbaik.
Tak ada dikotomi. Tak perlu disesalkan dan tak bisa diperbandingkan. Titik. Jika ada yg selalu membanding2kan ia akan lelah, percuma saja.
Tak ada dikotomi. Tak perlu disesalkan dan tak bisa diperbandingkan. Titik. Jika ada yg selalu membanding2kan ia akan lelah, percuma saja.
Buat apa menghembuskan perasaan atau pernyataan lebih baik menjadi ibu rumahan saja atau sebaliknya mjd ibu kantoran satu sama lain. Dua2nya baik namun tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Sebagai muslimah kita tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini takkan terjadi tanpa ijin dan iradahNya. Hatta sehelai daun gugur di gulita malam juga atas kehendakNya.
Apalagi pilihan2 yg diambil manusia. Tak ada pilihan yg berjalan tanpa seijin dan skenarioNya meski awalnya para ibu berdalih 'terdesak'.
Jika seorang ibu yg tadinya bekerja di ruang publik lalu memutuskan balik ke rumah termasuk bekerja dari rumah pasti ada serangkaian peristiwa yg melatarbelakangi dan itu dlm sepengetahuanNya. Misal anak di rumah lebih memerlukan perhatian sangat ekstra, lingkungan kerjanya tak nyaman, suaminya naik jabatan sehingga penghasilannya sdh sangatlah memadai, dsb...dsb. Misal demikian.
Atau sebaliknya seorang ibu yg memutuskan bekerja di luar rumah karena alasan ekonomi, suami sakit atau kena PHK, ikut membantu menopang kehidupan orangtua, membahagiakan orang tua yg sdh membanting tulang menjadi sarjana dsb itu juga atas ketentuanNya. Ujian dariNya juga memilihkan orang tua yg berpandangan anak hrs bekerja setelah kuliah sbg hasil jerih payah ortu. Jika ortu memberi kebebasan alhamdulillah tapi jika ortu kekeuh pengen putrinya bekerja apakah musibah?. Tentu tidak bukan?.
Allah memperlakukan manusia dg cara dan takdir yg berbeda2, masalah yg berbeda namun di satu sisi juga memberikan jalan solusi yg berbeda satu sama lain. Solusi yg diambil seseorang boleh jadi baik namun tak tepat dipakai orang lain meski ia mencontohkan dan mengkampanyekan sebaik mungkin.
Misalnya banyak yg menyarankan (secara tersirat ada juga yg terang2n) agar ibu pekerja berhenti dr pekerjaannya dan bekerja dr dalam rumah saja dg alasan begini2 seraya menyebutkan alasan2 yg menghibur begitu2. Secara pribadi sy tak menyalahkan itu himbauan utk memilih tapi sekali lagi tak semua solusi bentuknya sama utk masalah yg berbeda2.
Para ibu semestinya paling tahu apa yg harus dipilih, diputuskan, dan dijalaninya dg penuh tanggung jawab, lapang dada dan legowo dg keputusan tersebut. Jika jadi IRT ia tetap percaya diri, jika jadi ibu pekerja ia juga tak menyalahkan diri.
Dan kalau sdh memilih ya udah, itu berarti baik baginya, meski dlm pandangan orang enggak. Stop seakan 'menghakimi' pilihan orang lain yg memutuskan bekerja dg menghibur diri begini begitu seakan2 apa yg dipilihnya adalah terbaik dan orang lain keliru... tak perlu begitu. Walaupun hiburan diri itu masuk akal dan melampirkan dalil2.
Saya tak berada di kubu siapa2 karena sdh pernah jadi pelaku atau mengalami keduanya. Jadi IRT tulen dan kemudian bekerja di luar rumah.
Waktu hamil anak pertama (sebenarnya ke-2 karena yg pertama keguguran di usia hampir 4 bulan) sy memutuskan berhenti bekerja dg alasan riwayat kehamilan pertama yg kurang bagus dan yg kedua juga nyaris (sama) nasibnya. Namun Alhamdulillah dg ikhtiar bedrest yg lumayan lama semua terlewati.
Saya menikmati selama hampir 4 tahun. Mengisi hari2 bersama dg anak dan tentu saja pekerjaan RT sendirian di sebuah komplek jauh orang tua dan mertua. Nyuci manual dan nyetrika sambil ngawasi anak, kadang jemur baju pun sambil gendong anak hingga kerap disapa orang lewat, "bu nggak cari pembantu saja?". Saya menggeleng manis meski sedikit meringis.
Saya juga bikin2 usaha dari rumah tapi komplek kami yg masih sepi dan belum ada sosmed kayak sekarang membuat usaha tsb tidak berjalan mulus.
Maka saat usia anak hampir 3 tahun sy memutuskan mengajar di sekolah yg berjarak 5 menit dari rumah jika dg ojek. Intinya dekat dan bisa terjangkau pulang jika diperlukan.
Tulisan atau surat terbuka yg dimaksud judulnya semacam himbauan Kepada Ibu Rumah Tangga. Entahlah siapa yg menulis saya lupa, Intinya para IRT di rumah jangan sampai tak ikhlas dg pilihannya jika sering melihat teman2nya di sosmed yg terlihat lebih 'beruntung' karena bisa jalan2 baik di dalam maupun ke luar negeri terkait pekerjaannya terasa enak hidupnya. Juga upload berita naik jabatan dalam kariernya di kantor atau bisa sekolah lagi hingga bergelar doktor sementara ibaratnya para IRT masih saja berkutat dengan cucian, piring2 kotor dan setrikaan menumpuk atau beberes mainan anak melulu, begitu saban hari.
Lalu ditulislah bahwa mereka tak perlu merasa minder tak perlu sedih atau pun 'kalah', jika ikhlas insya Allah jumlah pakaian keluarga yg dicuci, disetrika, makanan yg dimasak jika dikalikan dengan pahala yg akan didapat begitu besar. Juga jangan sedih jika tangannya sendiri yg mendidik anak2 di rumah sementara mereka para pekerja (meski tak ditulis tapi isyaratnya membandingkan) menitipkan anak2nya pada para guru di sekolah, termasuk juga jangan risau jika teman2nya meraih gelar pendidikan umum sementara dia hanya bolak balik ikut kajian dan menekuni ilmu2 terkait tafaquh fiddin. Sy tak tahu kenapa keduanya dibanding2kan.
Secara pribadi saya setuju banget. Maksudnya, para IRT juga pekerja tak kenal lelah di rumah dengan segala permasalahan domestik yg ada. Sy kadang2 berkumpul dengan ibu2 dlm kepengurusan PKK di komplek mendengar keluh kesah dan curhatnya. Saya memahami itu.
Menurut saya semua pekerjaan itu pada awalnya mubah alias boleh yg membuatnya ibadah hanya satu yakni jika dilakukan karena Allah.
Ya semua pekerjaan apa saja yg baik2. Bukan hanya nyuci, ngepel, nyetrika atau masak di rumah. Wah rasanya dunia bener2 seperti daun sledri buat perempuan jika demikian.
Ya semua pekerjaan apa saja yg baik2. Bukan hanya nyuci, ngepel, nyetrika atau masak di rumah. Wah rasanya dunia bener2 seperti daun sledri buat perempuan jika demikian.
Pandangan yg benar adalah mau pekerjaan menulis laporan, mengetik, menyusun anggaran di kantor, jualan di toko atau pasar, pengadmistrasian, pengamanan, belum lagi mengajar atau mengobati orang di rumah sakit yg memang banyakan dikerjakan di luar rumah semuanya juga berpahala buat perempuan jika dilakukan karena Allah. Semua tergantung niat dan hubungan baik kita dg Allah.
Ibu2 tetap manusia biasa dg kesukaan berbeda2. Tak bisa dipaksakan bahwa nyuci nyetrika akan bisa menjadi hobbi emak2, juga memasak. Bisa memasak anjuran, tapi utk menjadi hobbi bukan keharusan. Cobalah tengok sirah Nabi..istri2 Rasul di Madinah malah jarang2 memasak bukan nggak pintar tapi mmg nggak ada bahan yg dimasak saking sederhana hidupnya. Sementara lihatlah apa yg dimasak ibu2 hari ini yg terupload di facebook. Menunya macam2 pula entah yg pada makan siapa saja sebanyak itu. He...he..mungkin habis diupload bagi2 ke tetangga siapa tau.
Juga benar mengajari anak dg tangan sendiri jauh lebih afdhol daripada tangan orang lain. Subhanallah indah sekali jika itu memang nyata, tapi apakah bisa dipastikan seorang ibu itu lulusan pendidikan tahsin semua yg pengajaran makhrajul huruf dan tajwidnya sdh benar, apakah dia ahli matematika semua yg nggak usah nanya ke sana sini bahkan cuma sekedar nanya hukum phytagoras?.
Saya rasa jika kesempatan itu berkurang karena sang ibu harus berbagi waktu dg tugas lain bukan berarti upayanya untuk menjaga dan mendampingi dg waktu yg ada juga sia2 di mata Allah. Apalagi buat ibu2 yg menitipkan anak2nya pada Allah dg doa tulus sepanjang perjalanan kerja.
Termasuk soal menuntut ilmu. Masya Allah ini yg maaf, agak menohok...di mana 'keliru' nya perempuan yg berhasil jadi doktor di bidang ilmu selain ilmu agama?
Bukankah semua sumber ilmu itu sama dariNya juga?. Mengapa harus dibedakan dan seolah dibandingkan dg ilmu agama?. Enggak. Semua ilmu yg baik itu sumbernya sama. Kalau ada bberapa yg diprioritaskan betul. Tapi jika dibedakan berarti sama saja kita memisahkan keduanya. Padahal seorang Aisyah r.a selain mampu menyerap hadits tapi juga belajar ilmu tabib atau pengobatan.
Bukankah semua sumber ilmu itu sama dariNya juga?. Mengapa harus dibedakan dan seolah dibandingkan dg ilmu agama?. Enggak. Semua ilmu yg baik itu sumbernya sama. Kalau ada bberapa yg diprioritaskan betul. Tapi jika dibedakan berarti sama saja kita memisahkan keduanya. Padahal seorang Aisyah r.a selain mampu menyerap hadits tapi juga belajar ilmu tabib atau pengobatan.
Bukankah kita para ibu yg priksa kehamilan akan lebih nyaman dgn dokter kandungan perempuan?, termasuk polisi perempuan jika ada hal2 mendesak terjadi di jalan. Termasuk perawat perempuan di rumah sakit?. Dan nyatanya mereka memang banyak kerja di luar apalagi yg kena dinas malam.
Di tulisan lain yg agak mirip, kembali diungkap bahwa nanti di akhirat para istri nggak bakal ditanya soal laporan keuangan, atau tetek bengek seputar pekerjaan lainya yg akan ditanya adalah tanggung jawab sebagai istri dan ibu yg mendampingi anak2nya. Betul...betuuul banget. Karena lain2nya memang sedekah.
Tapi apakah itu berarti seorang ibu yg memutuskan bekerja dipastikan tak bertanggung jawab?. Pasti tak peduli alias cuek tentang perkembangan anak2nya? Bagaimana bisa dipastikan demikian?. Bagaimana bisa berpikir demikian. Entahlah...
Kita pernah pengalaman menjadi anak, dan setelah jadi ibu saya sangat yakin bahwa yg diperlukan anak bukan sekedar sosok ibu yg setiap menit ada di sampingnya terus menerus. Bukan. Buat apa fisiknya bisa dilihat tapi hatinya tak terjangkau, apa bedanya ibu yg bahunya bisa dipeluk tapi otaknya tak fokus entah dengan kesibukan apa atau prasangka2 apa yg tumpang tindih di kepalanya, untuk apa ibu yg selalu mendampingi tapi tak mampu menasihati karena jiwanya tertekan?.
Ini bukan berarti alasan utk menyuruh para ibu berbondong bekerja di luar rumah ya. Bukan. Ini dimaksudkan bahwa kuantitas memang penting tapi di atas itu kualitas jauh lebih penting. Dan jika bicara kualitas msg2 ibu termasuk ibu pekerja pasti punya trik2nya sendiri yg bisa jadi berbeda dg ibu lain.
Indikator yg utama (menurut saya) atas pilihan atau kesempatan Ibu di rumah dan bekerja di luar hanya satu. Dengannya mampu bersyukur dan menjadikan semakin dekat dgn Allah.
Tak perlu kepo dan nanya2 tak jelas, " si mamah muda tetangga saya ini ya suaminya sdh tajir, ia masih saja kerja. Apa sih yang dicari. Kemaruk amat ya. Dan anehnya suaminya mengijinkan pulak!".
Ndak usah begitu...bukan hak kita cari tahu niat orang dlm bekerja. Siapa tahu...ya siapa tahu dg bekerja itu dia semakin bersyukur, karena betapa Allah memberikan potensi yg membuatnya semakin berbahagia karena bermanfaat bagi sesama dan keluarga.
Kadang memang beda arti bekerja bagi laki2 dan perempuan. Pekerjaan bagi laki2 adalah harga diri karena tuntutan kewajiban menafkahi keluarga tapi bagi perempuan, bekerja bisa jadi karena banyak hal, rasa ingin menolong, ingin mengembangkan diri, ingin bersyukur dg potensi yg ada atau ingin berterima kasih pada orang tua dan jadi kebanggan keluarga tersendiri. Macam2. Kalau ingin eksis?. Ah gak tau ya kalo itu.
Jadi ibu shalihah, berusaha meyakinkan diri bahwa menjadi IRT itu ladang amal memang harus tapi bukan berarti merasa itu yg paling baik dg menyebutkan misal "musuh" ibu RT itu perempuan2 wangi berblazer di kantor ( he...he sy malah nggak punya blazer). Entahlah apa maksud kata musuh itu spt dlm tulisan tsb, kesannya sesuatu yg harus diperangi. Saya kuatirnya para IRT jadi benci sama emak2 yg kantoran meski yg diperangi blazernya, apa salah mereka?.
Kasihan juga ibu berblazer sudah capek bekerja selalu 'ditakut-takuti' nanti anaknya begini2, gak keurus, terjerumus narkoba, pergaulan bebas seakan menghembus2kan angin bahwa yg mereka lakukan adalah dosa besar.
Memurut ulama perempuan bekerja di luar rumah itu boleh dg syarat dapat ijin dari wali. Kalau masih lajang wali itu bapaknya, kalo sdh berkeluarga ya suaminya. Itu saja. Kalao suaminya melarang memang lebih baik dituruti agar stabilitas aman terkendali. Itu bentuk hormatnya istri pada suami.
Kalau seandainya perempuan dilarang bekerja di luar rumah utk kondisi2 tertentu, yakinlah tak mungkin Allah SWT dlm QS. Al Qasas 23-25 menceritakan kisah Nabi Musa bertemu 2 orang wanita (putri Nabi Syuaib) yg tengah bekerja di luar rumah hendak menuruni sebuah bukit utk mengembala sambil menghalau kambing2nya yg ingin minum di sungai. Bayangkan deh perempuan menarik2 kambing yg kehausan dg sekuat tenaga. Lalu Musa bertanya, " May i help you?. Why do you do like that?". Kenapa mesti ditarik2 itu kambing?. Kenapa tak dibiarkan?
"Kambing2 kami kehausan tapi penggembala2 di sungai itu semuanya laki2, mereka tak mau memberi kesempatan kepada kami. Dan kami tak mungkin berdesak2an dg mereka. Ayah kami adah sosok yg sudah tua yg tak kuat lagi bekerja." Kira2 demikian tafsiran dialog antara Musa dan 2 putri nabi Syuaib.
Maknanya seorang muslimah boleh saja bekerja di luar jika ada kondisi2 mendesak tapi tetap dg syarat2 menjaga kehormatan diri, tidak menimbulkan fitnah2 dsb.
Afdholnya perempuan atau ibu bekerja memang bisa memilih jenis pekerjaan yg sesuai dan memberi dampak maslahat luas. Tapi kalau belum bisa ya kuncinya spt dua putri Nabi syuaib di atas, sebisa mungkin menjaga diri dan banyak berdoa.
Ibu rumahan dan ibu kantoran sama2 baik jika dg aktivitasnya ia makin dekat dg Allah dan bersyukur. Tak usah membandingkan dg yg lain atau juga tak usah merasa kecil hati di banding yg lain.
Fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan) dg orang lain lebih bersifat utk menginspirasi layaknya sahabat Rasulullah berlomba dalam sedekah. Namun yakin lah di akhirat nanti Allah tidak membandingkan catatan kehidupan kita dg catatan orang lain karena standarnya berbeda sesuai perlakuan takdir yg ditetapkanNya.
Yg ada adalah buku catatan kita sendiri. Dibandingkan antara kebaikan dan keburukan yg kita buat mana yg timbangannya paling berat. Yaumul Hisab wa Yaumul Mizan.
#23032018
St. Cilebut
[ ] Wallahu Alam bishhawab.
St. Cilebut
[ ] Wallahu Alam bishhawab.
Komentar
Posting Komentar