Kredibilitas Dulu, Baru...


Setiap baca brosur lembaga pendidikan khususnya sekolah/madrasah, saya coba nyimak soal jaminan kualitas. Apa yg akan dibuat lembaga atau sekolah ini utk "mengolah" input2nya?

Bukan deretan kejuaraan ini itu yg sdh diraih, atau hafalan Quran sekian juz (walaupun sy juga berharap anak2 sy jadi penghafal Quran), bukan pula fasilitas2, lab ini itu yg dipunyai sekolah, atau para pengajarnya keren2 lulusan dari universitas2 ternama. Itu semua bagus dan gak masalah tapi bagi capaian pendidikan apalagi bertajuk pendidikan Islam itu semua masihlah kulit luar.

Berapa persen output jujur terpercaya yg dihasilkan? berapa orang dari sekian siswa yg diolah memiliki bibit pemimpin harapan masa depan, berapa gelintir lulusan dg bakat alaminya terasah di sana berkembang menjadi manusia yg memiliki integritas dan kredibilitas?.
Ih...melambung kali dikau, Mak!😁

Ada2 aja. Ya mana bisa terukur, itu kan kualitatif. Aspek karakter susah dihitungnya. Lha bisa jadi kan hari ini baik besok kagak, kecilnya menyejukkan mata gedenya bikin netes air mata karena tingkahnya bikin sesak dada?

Ih...harusnya bisa doong. Bisa lho sekolah bikin jaminan demikian..apalagi bagi yg sdh establish bertahun2 dan sdh terbukti para lulusannya, ada nggak sekolah SD/MI yg meneropong lulusannya sejak jebol keluar pagar hingga mereka dewasa bahkan 40 th?. Hee..jangan dikira apa yg diterima siswa di sekolah itu nggak kayak mata rantai  saling bersambungan. Ada mungkin ya.. tapi bak nyari kutu dalam pasir.

Masalahnya nulisin "jujur, disiplin, terpercaya..." di brosur atau apa kek kemasan katanya, itu nggak eye catching bagi para ortu. Mungkin juga terkesan normatif. Para emak juga jarang yg hunting ke arah sana, kebanyakan pengen dimasukin ke sekolah ono agar anak2nya pada menyabet juara2 dan bisa dipajang di rumah pialanya. Iya tah..?. Eh nggak ding, just hoax. Mungkin hanya perasaanku saja..😊😷

Oke...kita tarik mundur ya, semoga nemu titik temu kenapa "jaminan karakter" harus jadi PR bersama. Asyiiikkk sore2 gini diajak ngomongin serius. Ih udah pada ngopi belum?...😁

Mulai dr Pre Question:
Mengapa Nabi Muhammad SAW diutus Allah pada usia 40 tahun?.

Ada yg mengatakan karena di usia itu usia yang cukup matang. 30 kemudaan, 50 ketuaan. 60 apalagi, atuh mah uzur pisan, katanya.

Well...bukankah kalau Allah berkenan bisa saja mematangkan dan mendewasakan orang di usia 20 tahun.... Apalagi bagi manusia terpilih seperti beliau?.

Suatu saat sy membaca tulisan seorang Ustad muda, 'ustad viral' yg bilang (intinya) begini,...saya ingin stabil (sukses) di bisnis sebelum usia 40 th jadi sy bisa berdakwah lebih leluasa tanpa memikirkan soal uang. Jangan sampai masyarakat berpikir dakwah yg membiayai hidup saya. Ya saya memiliki kebebasan finansial, yg tidak mengganggu kewajiban dakwah sy sebagai seorang muslim.

Izzz keren dong ya. Bagus lah, harusnya memang demikian para juru dakwah konsen ke umat saja, kalao ada unsur uang biasanya ada konflik of interest...😷🤕

Tapi alasan itu pun tetap menyisakan penasaran. Masak iya sih alasannya karena soal nafkah. Kalau di Al Quran, malah dikatakan nabi2 lain meski utusan Allah mereka tetap berjalan di pasar2 (mencari nafkah maksudnya).

Nah akhirnya kemudian saya menemukan penjelasan yg agak sreg. Begini, untuk menjadi seorang Rasul yang menyampaikan dakwah, mengingatkan umat, mengajak ke jalanNya intinya tugas teramat besar itu tetap memerlukan tahapan waktu untuk membentuk yg namanya kredibilitas diri.

Jadi sebelum usia 40 th, Muhammad SAW 'digembleng' oleh Allah agar sosoknya 'mengakar' dulu di hati masyarakat Quraisy dan meninggalkan track record yang baik. Nggak ujug2. Dan ini sunatullah, alamiah begitu ya bukan dibikin2.

Beliau benar2 menjadi pribadi berkarakter karena memiliki kredibilitas, yg bukan hanya diakui oleh orang2 baik tapi juga orang2 yg 'buas dan keras'.

Al Amiin. Terpercaya. Ini bukan sekedar julukan keren tapi jaminan kualitas meski tak ada sertifikat bahwa Muhamad SAW memang sosok tepat yg diakui dan terpercaya di masyarakat.

Rasul SAW diutus bukan hanya untuk kaumnya saja seperti nabi2 lain dari jalur Nabi Ishak yg umumnya di kisaran Bani Israil, tapi beliau nabi akhir zaman, utk semua umat manusia yg karakternya bisa diandalkan. Dalam hal apa?, dalam pergaulan di masyarakat, dalam membina diri, dalam membangun keluarganya. Teruma dalam mengajak manusia ke jalanNya. Semua akan dijadikan contoh.

Bagaimana beliau akan mengajak ke jalanNya bila Quraisy tak percaya padanya sebelumnya, bagaimana ia bicara kasih sayang jika keluarganya berantakan?, bagaimana bicara peradaban jika di masa2 mudanya tak pernah memikirkan kondisi lingkungan dan menjadi bagian solusi permasalahan?.

Et dah..begitu ya?. So utk menjadi penebar dakwah maupun kebaikan di masyarakat, Rasulullah meneladankan bentuklah kredibilitas kamu dulu!..bikin orang percaya beneran ke kamu dulu!. Dan itu harus dilatih dan dipersiapkan.

Pun memang perlu waktu!. Bukan sim salabim, dipermak seolah2 jujur, disiplin terpercaya. Menikah dan bangun keluarga dulu, lalu lihatlah bagaimana kamu mengelola keluarga kecilmu sebelum ngurus masyarakat dan negara!!. Terjun dan selami perilaku wargamu sebelum jadi wakil mereka atau bahkan pemimpin mereka; melekat dan menyatulah ke mereka bukan sekedar nempel kayak slotip gampang lepas (kalo ini mah istilah saya..😁)

Wah boljug dan benjug ya...boleh juga dan bener juga penjelasan tsb.

Jadi ikutan terjawab deh mengapa ongkos politik kita mahal, susah menemukan orang yg jelas kredibilitasnya dan diakui. Yg sdh tépilih apapun itu,  pun nggak jaminan, masih juga hrs pasang brosur dan pamflet2 seakan2 belum dikenal...karena ragu2 apakah sosoknya masih menyentuh dan mengakar di hati masyarakat? Apakah mereka akan memilihnya lagi?. Akan percaya lagi?.

Jadi kepikiran kan...apa yg sdh dan seharusnya dilakukan dg pendidikan kita?.

Mari sama2 bershalawat atas Rasul kita tercinta. Allahumma shalii 'alaa sayyidina Muhammad.

Sore penuh semangat
St. Depok
11042018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Polah Bapa Kepradhah

Koneksi 'Orang Dalam'